Tampilkan postingan dengan label ajaib bin aneh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ajaib bin aneh. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Januari 2010

Misteri masuk angin


Persepsi adalah bentuk lain dari doa. Saat tubuh kehujanan, lalu kita merasa sengsara dan menganggap akan sakit, kemungkinan besar kita pun akan sakit.

Ada banyak “mitos” kesehatan di sekitar kita yang terlanjur diyakini kebenarannya. Diantaranya mitos “ masuk angin”, “kerokan”, dan “angin duduk”. Masuk angin sering diasosiasikan dengan kehujanan, begadang (kurang tidur), tugas malam, ataupun perubahan musim (cuaca). Kerokan identik dengan usaha untuk “ mengeluarkan angin” dari dalam tubuh, sedangkan angin duduk sering dihubungkan dengan kematian mendadak tanpa sebab.

Masuk Angin dan Kehujanan
Bagaimana cerita sebenarnya? Mitos masuk angin memang ada benarnya, tapi ada pula salahnya. Misalnya, kita beranggapan bahwa kehujanan bisa menyebabkan masuk angin, demam, batuk, pilek, dan badan linu-linu. Padahal, ini gejala khas dari infeksi virus influenza bukan? Apa hubungannya antara air hujan dengan virus influenza? Apakah di dalam air hujan terdapat virus influenza? Apakah di balik baju yang basah terdapat segerombolan virus yang siap menyerang? Tentu saja tidak.
Mengapa kita sakit setelah kehujanan? Apakah kita pernah berpikir bahwa para atlet renang yang hamper 8 jam sehari berada di kolam renang sering masuk angin? Bahkan kita sendiri saat berekreasi ke pantai atau berenang di kolam renang tetap segar bugar. Padahal sama-sama air bukan? Mengapa bisa demikian?
Disiplin Ilmu Psikoneuroimunologi (PNI) menjelaskan dalil (hadist qudsi) bahwa, Allah itu sebagaimana prasangka hamba-Nya. Prasangka adala dugaan atau persepsi kita. Bila Allah saja wujud dan keberadaan-Nya bergantung pada cara kita memahami dan memaknainya, apalagi fenomena dalam kehidupan. Persepsi kita adalah bentuk lain dari doa. Saat tubuh kehujanan, kemungkinan kita pun akan sakit.
Darimana datangnya “doa” jelek tersebut? Dari informasi yang dicangkokkan ke dalam benak kita. Dari mana datangnya informasi itu? Dari pengetahuan yang kita terima selama ini sebagai budaya. Budaya tersebut kemudian diwariskan secara turun-temurun. Lalu kita meyakininya sebagai sebuah kebenaran. Dengan demikian, kita sudah berburuk sangka terhadap air hujan. Keyakinan bahwa kehujanan akan membuat sakit diterima dan menciptakan terror kecemasan di otak ketika kita mengalaminya. Saat cemas itulah terjadi peningkatan kadar hormone kortisol, sehingga system pertahanan tubuh menjadi lemah. Kondisi ini memudahkan kuman atau virus yang tidak diundang masuk dan mengganggu sistem tubuh kita. Tanpa disadari, ketakutan dan kecemasan kita telah mengundang mereka untuk “berpesta”.

Kerokan
Sebenarnya, kerokan termasuk metode terapi yang telah teruji secara ilmiah. Kerokan dapat digambarkan sebagai upaya untuk merangsang sistem pertahanan tubuh melalui induksi radang lokal. Dengan adanya faktor peradangan, pembuluh darah akan melebar sesaat sehingga faktor-faktor pertahanan tubuh seperti interferon dan tumor nekrosis aktif kembali. Kondisi ini diharapkan dapat membangkitkan “ghirah” sistem pertahanan tubuh untuk mengontrol keberadaan virus. Bahkan, jika virus tersebut dianggap membahayakan, sistem pertahanan tubuh yang telah terstimulasi tersebut dapat mengeliminasi dan mendaur ulang virus tersebut menjadi material biologis yang lebih bermanfaat.
Angin Duduk
Angin duduk adalah gejala kelainan otot jantung yang terjadi dalam waktu singkat. Kondisi ini, timbul karena kurangnya oksigen, sehingga banyak sel otot jantung mengalami kematian.
Mengapa otot jantung bisa mengalami kekurangan oksigen? Karena pembuluh darah yang membawa darah kaya oksigen ke bagian-bagian oto jantung tersumbat, akibat adanya pembentukan “bukit-bukit” di dinding pembuluh darah bagian dalam. Bukit-bukit ini muncul karena adanya luka pada dinding bagian dalam akibat derasnya laju aliran darah serta banyaknya radikal bebas. Khususnya yang berasal dari lemak jenuh.
Radikal bebas berbahaya karena sifat kimianya labil, sehingga ia cenderung mengambil sebagian electron atau proton dari sel dinding pembuluh darah agar dirinya menjadi lebih stabil. Akibatnya sel tersebut akan rusak. Proses kerusakan itu terjadi secara berulang penambalan yang terjadi akan “membukit”. Akibat penyumbatan yang terjadi di pembuluh darah jantung yang bernama koroner, maka penyakitnya disebut jantung koroner. Jadi, angin duduk sebenarnya adalah bagian dari gejala penyakit jantung koroner.

Rabu, 20 Januari 2010

Kekuatan pikiran


Jika keyakinan kita mantap, semua variebel di alam semesta ini seakan mendukung keyakinan tersebut. Hal-hal rasional seakan tidak berlaku lagi, hukum alam seakan “berhenti”, sebab kita telah bermain dengan dimensi lain.

Ada tradisi unik yang dilakukan sebuah sekte agama Budha di Tibet. Sebelum seseorang diwisuda menjadi biksu atau limpo chi, ia harus diuji terlebih dahulu. Ujiannya terbilang aneh, yaitu mereka dikirim ke puncak Pegunungan Himalaya. Dalam waktu 24 jam mereka diminta untuk bermeditasi tanpa mengenakan busana, plus tanpa makan dan minum. Padahal, suhu rata-rata di pegunungan Himalaya mencapai minus 10 derajat celcius atau lebih. Pada suhu serendah itu, tumbuh-tumbuhan pun sulit bertahan hidup, apalagi manusia. Andai pun bisa bertahan, seperti yang dilakukan para pendaki professional, mereka harus mengenakan baju yang hangat berlapis-lapis plus tabung oksigen.
            Mengapa ujiannya seberat itu? Ketika ditelusuri, hal tersebut merupakan ujian keyakinan para calon biksu. Jika selama ini keyakinan mereka hanya ada pada tataran filosofis, tibalah waktunya mereka pun harus diuji pada tataran praktis. Mereka diperintahkan untuk meyakini sesuatu hal yang dapat menyelamatkan mereka dalam kondisi ekstrem. Hal yang diperintahkan guru pembimbing ternyata sangat sederhana, dia hanya meminta agar para calon biksu ini membayangkan bahwa dit tulang ekornya terdapat api yang menyala sehingga para biksu pun bisa merasakan kehangatan.
            Apa yang terjadi? Sekitar 50% dari mereka gagal, namun sebagian yang lain berhasil. Yang mengejutkan, di sekitar mereka duduk bersila terdapat semacam lubang berdiameter sekitar satu meter. Salju yang mereka duduki meleleh seperti terkena panas. Aneh bin ajaib, bukannya calon biksu yang membeku, tapi malah saljunya yang meleleh. Api yang menyala di tulang ekor seolah bukan imajinasi, tapi telah menjadi kenyataan.

            Apakah ini sihir? Pasti bukan. Kuncinya terletak pada keyakinan atau keimanan. Semakin kuat keyakinan, semakin luar biasa pula efek yang ditimbulkan. Banyak terjadi kejadian “supranatural” di sekitar kita. Beberapa waktu yang lalu, di ITB dilakukan sebuah percobaan yang sedikit aneh. Sebuah bola lampu yang rapuh dijatuhkan ke keramik dari ketinggian tertentu. Apa yang terjadi? Yang hancur ternyata bukan bola lampu, tapi keramiknya. Ada pula percobaan lain, seseorang bisa mematahkan besi denga kertas koran. Padahal yang melakukan bukanlah orang yang memiliki kemampuan bela diri atau sihir. Inti dari semua itu, ada pada apa yang kita yakini dan imani, karena itulah yang akan menjadi kenyataan. Itu pulalah yang disebut dengan kekuatan pikiran.
            Melihat fenomena-fenomena tersebut, timbul pertanyaan yang mendasar, yaitu dari manakah datangnya kemampuan semacam itu. Semua yang ada di alam semesta ini-termasuk manusia-memiliki kesamaan, sebab semuanya berasal dari sumber yang sama. Jika matahari bisa menghasilkan panas melalui reaksi fusi, secara prinsip, manusia pun bisa menghaslkan panas. Hal tersebut dikarenakan, bahan baku panas sudaha ada dalam tubuh manusia. Ingin menjadi “matahari” misalnya, itu pun bisa, karena unsure hydrogen dalam tubuh manusia sangat melimpah. Percayalah yang terjadi di matahari itu lebih sederhana, karena matahari hanyaa melibatkan dua proton yang dipersatukan menjadi neutron. Kemudian neutron bertemu satu proton, lalu dipersatukan lagi hingga terlepaslah electron manjadi cahaya.
            Artinya, keyakinan atau persepsi yang kuat, bisa membawa kita memasuki sebuah dimensi dimana karakteristik asli dimensi ini tidak berlaku. Bagaiman prosesnya? Hanya Allah Yang Mahatahu. Namun setidaknya, penjelasan berikut bisa memperjelas.
            Sesungguhnya, alam semesta ini diatur dan dihubungkan oleh sebuah “mekanisme tunggal”. Salah satu bentuk pengaturannya dapat kita lihat dalam empat gaya dasar yang mengatur keseimbanga dan harmoni alam semesta, yaitu gaya grafitasi, gaya elektromagnet, gaya nuklir lemah, dan gaya nuklir kuat. Mekanisme tunggal ini dapat kita umpamakan sebagai sebuah “computer induk” yang mengatur setiap kejadian di alam semesta, mulai dari yang terkecil hingga yang terbesat, dan yang paling rumit hingga yang paling sederhana.
            Alam semesta merupakan sebuah system yang padu dan saling terhubung, sehingga sebuah kejadian kecil di suatu tempat, akan dapat mempengaruhi wilayah alam semesta lainnya, serta bisa diketahui dari posisi mana saja. Inilah yang dinamakan “mekanisme universal” atau “alam bawah sadar”. Stephen Hawking menamainya The Grand Formula atau Rumus Segala Kejadian, sedangkan Al-Qur’an menyebutnya dengan Lauful Mahfuzh atau Kitabin Mubin (Kitab yang Nyata. Misalnya dalam QS Al-An-‘aam [6]:59.
            Nah, “komputer induk” (server) ini bisa kita akses oleh otak, karena otak manusia terhubung dengan komputer induk. Otak manusia yang milyaran jumlahnya dapat kita analogikan sebagai komputer kien. Kita dapat mengaksesnya melalui mekanisme alam bawah sadar tadi. Carl Gustav Jung menyebutkan sebagai “ketidaksadaran kolektif”, atau “mekanisme otomatis” (servo mechanism) menurut Maxwell Maltz. Inilah mekanisme di luar kesadaran yang berlaku universal. Mekanisme ini tidak hanya mempengaruhi diri seseorang saja, melainkan dapat mempengaruhi orang lain di sekitarnya. Bahkan, melibatkan berbagai mekanisme alamiah di sekitarnya.

            Ketika seseorang meyakini, alam bawah sadarnya akan merekam keyakinan tersebut, walau terlihat “tidak rasional”. Semakin kuat keyakinan, semakin kuat pula rekamannya. Selanjutnya, terjadilah mekanisme otomatis di alam bawah sadar yang mengoordinasikan semua variabel di alam semesta untuk menuju pada keyakinan tersebut. Jika kita mempunyai keyakinan mantap, semua variabel di alam semesta seakan digerakkan untuk mendukung keyakinan tersebut. Hal-hal rasional seakan tidak berlaku lagi, hukum alam seakan “berhenti”, sebab kita telah bermain dengan dimensi lain.
            Tidak hanya dimensi nonfisik, dimensi fisik kita pun akan bereaksi. Otal akan memerintahkan semua variabel yang ada dalam tubuh, khususnya para sel, untuk memfokuskan kerjanya demi mendukung keyakinan tersebut. Sel-sel akan melipatgandakan produksi energinya, sehingga tubuh mengeluarkan energi lebih besar dari biasaya. Itulah sebabnya, para calon biksu tadi bisa tahan di udara yang teramat dingin. Api imajinasi yang ada dalam otaknya, seakan mewujud api realitas. Semua komponen semesta, termasuk yang ada dalam tubuhnya, bekerja sama mewujudkan keyakinannya yang mendalam. Tidak berlebihan jika dikatakan, “Kekuatan Iman adalah kekuatan tertinggi”. Wallahu ‘alam.

Kecerdasan jari tangan

“ Akan dating hari, mulut dikunci, kata tak ada lagi. Akan tiba masa, tak ada suara dari mulut kita. Berkata tangan kita tentang apa yang dilakukannya. Berkata kaki kit, ke mana saja dia melangkah”.
(kutipan lagu Tangan Kaki Bicara, dipopuerkan oleh Chrisye)

Selama ini kita berbicara tentang kecerdasan, asosiasi kita tertuju ke otak. Padahal, Allah SWT menyimpan kecerdasan tidak hanya di otak, tapi juga di seluruh bagian tubuh.
Ingin bukti?
Ada data beberapa mahasiswa mengetikkan SMS pendek sekitar 100 karakter tanpa melihat papan kunci (keypad) di telepon genggam. Ternyata tingkat kesalahannya sangat kecil. Bahkan 25% mahasiswa percobaan tersebut mampu mengetik dengan sangat tepat sampai titik komanya. Ketika mahasiswa yang bersangkutan diminta memproyeksikan pengetahuan abstraknya terhadap keypad di papan tulis, tingkat kesalahan mencapai 90%. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa “memori” keypad mungkin tersimpan di sel-sel ibu jari. Bisa juga, indra peraba di kulit ibu jari dapat memproyeksikan gambaran keypad ke otak. Atau, mungkin pula kedua hipotesis tersebut berlaku secara parallel.
Hal yang tak kalah menariknya, adalah percobaan berendam di air dingin. Beberapa sukarelawan diminta untuk berendam air dingin hamper sebatas bahu, lalu perlahan ditetesi segelas air hangat di daerah pundak. Apa yang terjadi? Bersamaan dengan dimulainya proses penetesan air hangat, para sukarelawan merasakan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuh, termasuk bagian-bagian yang terendam air dingin. Hal ini menunjukkan bahwa sel-sel tubuh (somatik) memiliki kemampuan memilah, memilih, dan menganalisis kondisi yang sesuai untuk dirinya. Terdapat pula kerjasama antara sistem memori dan pengambilan keputusan di tingkat pusat (otak dan jejaring sarafnya) denga kebijakan-kebijakan lokal di tingkat sel yang tersebar merata di seluruh tubuh.

Pilihan sel tubuh untuk menyikapi kondisi yang dihadapi merupakan hasil kompromi antara otoritas lokal dengan kebijakan di tingkat pusat. Dengan demikian, kemampuan sensoris sebagai perasa bukan lagi monopoli sistem saraf semata, tetapi juga dibangun oleh segenap komponen tubuh manusia, dan kita menyebutnya kecerdasan sinestesia, yaitu kemampuan untuk mengoptimalkan semua pusat asosiasi si otak dalam mengolah stimulus atau rangsangan.

Tampaknya kita harus tambah yakin bahwa tidak ada satu pun perbuatan yang luput dari “catatan” Allah. Di akhirat kelak, yang yang menjadi bukan siapa-siapa, tapi diri kita sendiri. Tangan, kaki, lidah, dan seluruh anggota tubuh kita akan berbicara. Sesungguhnya, mereka sangat cerdas dan mampu menyimpan memori.
Benar apa yang diungkapkan Chrisye dalam sebuah lagunya,”Akan datang hari, mulut dikunci, kata tak ada lagi. Akan tiba masa, tak ada suara dari mulut kita. Berkata tangan kita, tentang apa yang dilakukannya. Berkata kaki kita, ke mana saja dia melangkah”. Bait lagu tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Quran,…telah tercatat pada hari (ketika), lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan (QS An-Nur [24]:24).
Maka, berhati-hatilah dalam mendengar, melihat berucap, dan bertindak. Sebab, semua yang kita lakukan harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya (QS Al-Isra’ [17]: 36).

Efek Kupu-Kupu Lorentz


Sebuah kepakan sayap kupu-kupu di Brasil bisa memicu terjadinya tornado di Texas beberapa bulan kemudian.

Di seantero alam semesta ciptaan Allah inilah, kita dapat mengamati dan mencermati berbagai system yang seimbang dan proporsional. Tanpa kita sadari, ada semacam jejaring halus yang menghubungkan setiap elemen kemestaan. Karena itu, apa pun aktivitas yang kita lakukan, jika tanpa pertimbangan dan perencanaan yang baik, akan berpotensi mendatangkan bencana di tempat lain.
            Seorang ahli Geofisika cuaca bernama Edwart Lorentz telah mengembangkan sebuah hipotesis yang menyatakan, bahwa sekecil apa pun perubahan yang terjadi, dampak yang ditimbulkan akan semakin meningkat magnitude-nya. Dia membuktikan, bahwa perbedaan satu digit saja data di belakang koma (0,000X) akan menimbulkan perubahan berantai yang hasil akhirnya akan berbeda secara signifikan. Kurva yang menggambarkan terjjadinya perubahan ini disebut kurva Lorentz.
            Saya kutipkan sedikit kisah dari sebuah blog di internet tentang kurva Lorentz ini. Satu ketika, adalam usahanya untuk melakukan peramalan cuaca, Lorentz menyelesaikan 12 persamaan diferensial non-linear dengan komputer. Hasil perhitungannya itu kemudian digambarkan dalam bentuk kurva yang dicetak pada sehelai kertas. Pada awalnya, Lorentz mencetak kurva dalam format enam angka di belakang koma (..., 506127). Kemudian untuk menghemat waktu dan kertas ia memasukkan hanya tiga angka di belakang koma (...,506) dan cetakan berikutnya diulagi pada kertas yang sama yang sudah berisi hasil cetakan tadi dengan menggunakan enam angka di belakang angka. Satu jam kemudian, Lorentz dikagetkan dengan hasil yang sangat berbeda dengan yang diharapkan. Pada awalnya, kedua tersebut memanga berhimpitan, tetapi sedikit demi sedikit bergeser sampai membentuk corak yang sama sekali berbeda. Inilah yang kemudian dikenal sebagai “efek kupu-kupu” (butterfly effect). Efek ini mengibaratkan kepakan sayap kupu-kupu di Brasil (setara dengan pengabaian angka sekecil 0.000127) akhirnya mampu memicu terjadinya badai tornado di Texas beberapa bulan kemudian.

            Itu artinya, sekecil apa pun tindakan kita sekarang, pasti akan berdampak besar di kemudian hari. Konsep ini mengajari kita untuk berhati-hati dalam berfilir, berkata, dan bertindak. Ide yang baik, perbuatan yang baik, pasti akan menghasilkan hal-hal yang baik pula. Sebaliknya, semua perbuatan buruk akan menghasilkan keburukan yang dahsyat di masa depan. Maka, berhati-hatilah dalam bertindak. Seperti, jangan membuang sampah sembarangan, merokok seenaknya, jahil kepada orang lain, dsb. Perbuatan-perbuatan ini, terkesan sepele, tapi efek yang ditimbulkan bisa sangat fatal.
            Di muka bumi ini, terdapat delapan milyar lebih manusia. Masing-masing bergerak dan malakukan aktivitasnya masing-masing, entah itu baik atau buruk. Dengan berbagai macam aktivitas tersebut, maka aka nada bermilyar-milyar efek yang akan terjadi. Lalu, bagaimanakah kita memahaminya?
            Sebetulnya efek yang akan ditimbulkan tinggal mengikuti hokum aksi dan reaksi Newton. Setiap aksi pasti akan menimbulkan reaksi tinggal mangakumulasikannya saja. Misalnya, ketika seseorang membuang sampah sembarangan, kemudian sikap ini ditiru banyak orang, akan timbul legitimasi bahwa membuang sampah sembarangan itu diperbolehkan. Jika semua demikian, bencana banjir tinggal menunggu waktu saja. Yang terkena banjir boleh jadi bukan hanya mereka yang membuang sampah sembarangan, tetapi juga orang-orang di tempat lain.
            Dalam konteks yang lebih luas, secara fisikawi, tidak hanya terlihat pada aspek-aspek yang terekspresikan saja, tapi juga melibatkan aspek-aspek bawah sadar. Memang apa yang terjadi adalah hal yang kecil, tapi jika teakumulasi dan tidak ada penyeimbangnya, otomatis akan menjadi besar.

Air pun Bersujud


Ikatan hidrogen memiliki bentuk tiga dimensi menyerupai prisma dengan sudut 104,50. Setelah diukur, sudut ini sama dengan sudut yang kita bentuk ketika sujud.

Inilah masterpiece yang Allah SWT ciptakan untuk menambah indahnya hidup kita. Dapat kita bayangkan, jika bumi yang kita tempati ini tidak ada sesuatu yang bernama air. Tidak akan ada lautan yang membentang indah, awan yang biru, sejuknya pagi hari, tetesan embun, dan daun-daun hijau. Yang ada hanyalah lubang-lubang raksasa yang menakutkan, langit yang hitam kelam, serta gurun-gurun pasir yang luas membentang. Manusia, binatang, serta tumbuhan perlahan akan sirna. Satu hal yang pasti, tanpa air tidak akan ada kehidupan.
            Air adalah unsure dominan dalam kehidupan. Lihatlah diri kita sendiri. Ketika belum lahir di dunia, selama Sembilan bulan lebih kita berenang dalam air di rahim ibu kita. Setelah lahir, tubuh kita terdiri atas ilyaran sel hidup. Setiap sel mengandung banyak air dengan larutan bermacam-macam zat. Oleh karena itu, tidaklah aneh jika komposisi air dalam tubuh kita mencapai 70 % lebih. Kadar air dalam otak mencapai 74,5%, darah 90%, jantung 79%, ginjal 82%, dan paru-paru mendekati 80%. Jika kandungan air dalam setiap organ mampu kita pertahankan sesuai kebutuhan, kesehatan organ-organ tubuh tersebut akan terjaga. Sebaliknya, jika kadar air menurun, dapat dipastikan fungsi-fungsi organ pun akan menurun. Akibatnya tubuh akan rentan akan peyakit, bakteri, virus, dan lain-lain. Jadi bisa dibayangkan, betapa besar peran air dalam tubuh kita.
            Perkembangan ilmu pengetahuan modern makin meneguhkan pentingnya air. Air berperan melembabkan atmosfer lapisan udaranya sehingga layak dihirup oleh paru-paru. Proses metabolism serta reaksi kimia dalam sel dapat berlangsung secara proporsional karena peranan air pula. Proses fotosintesis untuk menghasilkan gula dan oksigen diawali oleh peran air. Bahkan cahaya matahari yang kita rasakan sehari-hari teryata tak terlepas pula dari peranan unsure air. Cahaya matahari yang menerpa bumi, sesungguhnya adalah paket foton (partikel-partikel cahaya) yang terdiri atas sekumpulan electron yang terlontar dari sebuah proses eksitasi helium dari reaksi fusi atau plasma trivalensi hidrogen (hidrogen, deuterium, dan tritium). Dan helium masih termasuk keluarga hidrogen, unsur utama sebuah molekul air. Jadi, matahari yang panas sebenarnya masih berkerabat dengan air.
            Secara structural, air terdiri atas tiga molekul (ganjil), yaitu satu oksigen dan dua hidrogen. Ikatan hydrogen ini memiliki benturan tiga dimensi menyerupai prisma degan sudut angulasi sebesar 104,50. Hebatnya, setelah diukur, sudut ini sama dengan sudut yang kita bentuk ketika sujud! Yang lebih mencengangkan lagi, dalam sudut seperti itu, air bisa berikatan dengan siapa saja, bisa membawa dan melarutkan apa saja, serta mampu mengatur suhu apa saja. Factor kimiawi dengn sudut seperti itu adalah sudut paling optimal.
            Artinya, jika sujud kita seperti sujud air, maka kita akan menjadi pribadi yang paling optimal kapan pun dan dimana pun. Kita akan mampu menebarkan manfaat bagi makhluk-makhluk Allah lainnya. Itulah sebaik-baik manusia.