Kita semua sama2 tahu bahwa pemanasan global sedang terjadi. IPCC melaporakn penelitiannya bahwa 0,15 - 0,3o C. Jika peningkatan suhu itu terus berlanjut, diperkirakan pada tahun 2040 (33 tahun dari sekarang) lapisan es di kutub-kutub bumi akan habis meleleh. Dan jika bumi masih terus memanas, pada tahun 2050 akan terjadi kekurangan air tawar, sehingga kelaparan pun akan meluas di seantero jagat.
Udara akan sangat panas, jutaan orang berebut air dan makanan. Napas tersengal oleh asap dan debu. Rumah-rumah di pesisir terendam air laut. Luapan air laut makin lama makin luas, sehingga akhirnya menelan seluruh pulau. Harta benda akan lenyap, begitu pula nyawa manusia.
Hasil studi yang dilakukan ilmuwan di Pusat Pengembangan Kawasan Pesisir dan Laut, Institut Teknologi Bandung (2007), pun tak kalah mengerikan. Ternyata, permukaan air laut Teluk Jakarta meningkat setinggi 0,8 cm. Jika suhu bumi terus meningkat, maka diperkirakan, pada tahun 2050 daera-daerah di Jakarta (seperti : Kosambi, Penjaringan, dan Cilincing) dan Bekasi (seperti : Muaragembong, Babelan, dan Tarumajaya) akan terendam semuanya.
Yah,,,kita semua sudah mengetahui itu… dan sebagian orang tetap mencoba untuk memberitahukan bahwa kejadian ini benar-benar sedang terjadi… namun tetap tidak sedikit orang yang masih tidak peduli. Mungkin karena kita masih merasa nyaman dengan keadaan sekarang…bisa menikamti semuanya mulai dari makanan, air, udara, daratan yang sukup untuk bermain bola, social yang masih cukup damai, dll…
Yah…itu saat ini…lalu bagaimana jika 10 tahun lagi, atau 20 tahun, atau sampai 30 tahun lagi. Saya tahu tidak akan terjadi perubahan yang signifikan saat ini karena kita semua masih menganggap ini hal yang biasa, tapi saya akan menjadi manusia yang sangat bodoh jika saya tidak terus mencoba untuk menginformasikan ini.
Lalu apa yang bisa kita lakukan?
Ada beberapa cara mudah yang bias kita lakukan, yaitu ;
Matikan listrik. (jika tidak digunakan, jangan tinggalkan alat elektronik dalam keadaan standby. Cabut charger telp. genggam dari stop kontak. Meski listrik tak mengeluarkan emisi karbon, pembangkit listrik PLN menggunakan bahan baker fosil penyumbang besar emisi).
Ganti bohlam lampu (ke jenis CFL, sesuai daya listrik. Meski harganya agak mahal, lampu ini lebih hemat listrik dan awet).
Bersihkan lampu (debu bisa mengurangi tingkat penerangan hingga 5%).
Jika terpaksa memakai AC (tutup pintu dan jendela selama AC menyala. Atur suhu sejuk secukupnya, sekitar 21-24o C).
Alihkan panas limbah mesin AC untuk mengoperasikan water-heater.
Tanam pohon di lingkungan sekitar Anda.
Jemur pakaian di luar. Angin dan panas matahari lebih baik ketimbang memakai mesin (dryer) yang banyak mengeluarkan emisi karbon.
Gunakan kendaraan umum (untuk mengurangi polusi udara).
Hemat penggunaan kertas (bahan bakunya berasal dari kayu).
Say no to plastic. Hampir semua sampah plastic menghasilkan gas berbahaya ketika dibakar. Atau Anda juga dapat membantu mengumpulkannya untuk didaur ulang kembali.
Sebarkan berita ini kepada orang-orang di sekitar Anda, agar mereka turut berperan serta dalam menyelamatkan bumi.
Dan saya yakin anda cukup pintar untuk menanggapinya….makasih
Memiliki tubuh dan badan yang sehat seumur hidup adalah dambaan setiap orang. Namun situasi dan kondisi lingkungan sekitar kita serta bervariasinya daya tubuh seseorang terhadap penyakit membuat hal impian tersebut sulit untuk dicapai. Semua orang pasti pernah sakit, namun resiko sakit dapat diminimalkan atau dikurangi resikonya dengan memperhatikan hal-hal berikut ini :
1. Istirahat / Tidur
Waktu yang diperlukan manusia normal untuk tidur kurang lebih 8 jam sehari atau sepertiga hari. Waktu tidur akan bertambah sesuai usia, di mana bayi, anak kecil dan manula membutuhkan waktu tidur yang lebih banyak dari orang dewasa dan anak muda. Tidur yang cukup dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan energi di dalam tubuh, sehingga dapat menghindarkan diri kita dari berbagai serangan penyakit yang merugikan.
2. Makanan
Makanlah makanan yang bergizi secara teratur, tidak berlebihan dan tidak kurang. Kelebihan makanan dapat meningkatkan kadar gula dalam darah yang akhirnya menimbulkan penyakit kencing manis yang sangat berbahaya. Kekurangan makan juga dapat menyebabkan kurang gizi, darah rendah, lesu, dan sebagainya. Perhatikan pula kandungan gizi sesuai takaran yang wajar, karena berlebihan suatu zat tidak baik untuk kesehatan.
3. Kondisi Psikis / Psikologi
Jangan terlalu stres dengan berbagai hal dalam hidup anda. Buat apa susah, lebih baik kita bergembira. Jika pekerjaan anda membuat anda stres dan pusing tujuh keliling terus-menerus maka sebaiknya anda mulai mencari peluang bisnis atau pekerjaan lain yang tidak banyak membuat anda stres. Bila anda punya masalah ada baiknya anda bicarakan dengan orang lain yang dekat dengan anda. Beban psikis dan pikiran dapat mempengaruhi daya tahan tubuh yang efeknya dapat mengundang penyakit jasmaniah dan rohaniah. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Luangkan waktu anda untuk sesuatu yang menyenangkan bagi diri anda sendiri dan jangan sekali-kali lari ke minuman keras dan narkoba.
4. Daya Tahan Tubuh
Tingkatkan daya tahan tubuh anda dengan mengkonsumsi berbagai makanan atau minuman alami yang dapat menangkis serangan kuman dan penyakit. Membiasakan diri dengan jamu-jamuan tradisional atau sering minum teh kental pahit setiap hari dapat mengingkatkan zat anti oksidan dalam tubuh untuk melenyapkan zat radikal bebas dari alam sekitar yang merugikan kesehatan kita.
5. Ekonomi Finansial
Memiliki penghasilan yang cukup untuk keperluan sehari-hari dan tabungan untuk masa depan yang halal akan membuat hidup anda tenang lahir dan batin. Jika anda masih berjuang dengan kebutuhan dasar maka rubahlah pola pikir anda. Bekerja sama dengan istri, suami atau kawan anda untuk merintis sebuah usaha yang memiliki peluang serta prospek yang baik, siapa tahu bisa sukses dan membuat anda terbebas dari masalah finansial. Jangan hidup boros, dan mulailah hidup sederhana walaupun penghasilan anda besar.
6. Sosial
Hiduplah yang rukun dengan tetangga anda di lingkungan sekitar anda. Perbanyak teman dan relasi serta jauhi permusuhan dan segala sifat dan sikap buruk pada orang lain. Istilahnya seribu teman masih kurang, satu musuh kebanyakan.sudah kebanyakan. Memiliki hubungan yang baik dengan para tetangga dan saudara sangat menguntungkan bagi anda, karena mereka dapat menolong anda sewaktu-waktu anda membutuhkannya. Pemilihan teman juga sangat penting. Pilihlah teman yang baik-baik yang bisa membantu anda dan tidak akan menjerumuskan atau merugikan anda. Timbal balik pun juga penting, di mana anda harus memberikan bantuan pada orang lain yang membutuhkan pertolongan. Kehidupan sosial yang baik dan sehat dapat membuat anda rileks dan dapat mengurangi resiko terkena gangguan kejiwaan baik yang ringan maupu yang berat.
Persepsi adalah bentuk lain dari doa. Saat tubuh kehujanan, lalu kita merasa sengsara dan menganggap akan sakit, kemungkinan besar kita pun akan sakit.
Ada banyak “mitos” kesehatan di sekitar kita yang terlanjur diyakini kebenarannya. Diantaranya mitos “ masuk angin”, “kerokan”, dan “angin duduk”. Masuk angin sering diasosiasikan dengan kehujanan, begadang (kurang tidur), tugas malam, ataupun perubahan musim (cuaca). Kerokan identik dengan usaha untuk “ mengeluarkan angin” dari dalam tubuh, sedangkan angin duduk sering dihubungkan dengan kematian mendadak tanpa sebab.
Masuk Angin dan Kehujanan
Bagaimana cerita sebenarnya? Mitos masuk angin memang ada benarnya, tapi ada pula salahnya. Misalnya, kita beranggapan bahwa kehujanan bisa menyebabkan masuk angin, demam, batuk, pilek, dan badan linu-linu. Padahal, ini gejala khas dari infeksi virus influenza bukan? Apa hubungannya antara air hujan dengan virus influenza? Apakah di dalam air hujan terdapat virus influenza? Apakah di balik baju yang basah terdapat segerombolan virus yang siap menyerang? Tentu saja tidak.
Mengapa kita sakit setelah kehujanan? Apakah kita pernah berpikir bahwa para atlet renang yang hamper 8 jam sehari berada di kolam renang sering masuk angin? Bahkan kita sendiri saat berekreasi ke pantai atau berenang di kolam renang tetap segar bugar. Padahal sama-sama air bukan? Mengapa bisa demikian?
Disiplin Ilmu Psikoneuroimunologi (PNI) menjelaskan dalil (hadist qudsi) bahwa, Allah itu sebagaimana prasangka hamba-Nya. Prasangka adala dugaan atau persepsi kita. Bila Allah saja wujud dan keberadaan-Nya bergantung pada cara kita memahami dan memaknainya, apalagi fenomena dalam kehidupan. Persepsi kita adalah bentuk lain dari doa. Saat tubuh kehujanan, kemungkinan kita pun akan sakit.
Darimana datangnya “doa” jelek tersebut? Dari informasi yang dicangkokkan ke dalam benak kita. Dari mana datangnya informasi itu? Dari pengetahuan yang kita terima selama ini sebagai budaya. Budaya tersebut kemudian diwariskan secara turun-temurun. Lalu kita meyakininya sebagai sebuah kebenaran. Dengan demikian, kita sudah berburuk sangka terhadap air hujan. Keyakinan bahwa kehujanan akan membuat sakit diterima dan menciptakan terror kecemasan di otak ketika kita mengalaminya. Saat cemas itulah terjadi peningkatan kadar hormone kortisol, sehingga system pertahanan tubuh menjadi lemah. Kondisi ini memudahkan kuman atau virus yang tidak diundang masuk dan mengganggu sistem tubuh kita. Tanpa disadari, ketakutan dan kecemasan kita telah mengundang mereka untuk “berpesta”.
Kerokan
Sebenarnya, kerokan termasuk metode terapi yang telah teruji secara ilmiah. Kerokan dapat digambarkan sebagai upaya untuk merangsang sistem pertahanan tubuh melalui induksi radang lokal. Dengan adanya faktor peradangan, pembuluh darah akan melebar sesaat sehingga faktor-faktor pertahanan tubuh seperti interferon dan tumor nekrosis aktif kembali. Kondisi ini diharapkan dapat membangkitkan “ghirah” sistem pertahanan tubuh untuk mengontrol keberadaan virus. Bahkan, jika virus tersebut dianggap membahayakan, sistem pertahanan tubuh yang telah terstimulasi tersebut dapat mengeliminasi dan mendaur ulang virus tersebut menjadi material biologis yang lebih bermanfaat.
Angin Duduk
Angin duduk adalah gejala kelainan otot jantung yang terjadi dalam waktu singkat. Kondisi ini, timbul karena kurangnya oksigen, sehingga banyak sel otot jantung mengalami kematian.
Mengapa otot jantung bisa mengalami kekurangan oksigen? Karena pembuluh darah yang membawa darah kaya oksigen ke bagian-bagian oto jantung tersumbat, akibat adanya pembentukan “bukit-bukit” di dinding pembuluh darah bagian dalam. Bukit-bukit ini muncul karena adanya luka pada dinding bagian dalam akibat derasnya laju aliran darah serta banyaknya radikal bebas. Khususnya yang berasal dari lemak jenuh.
Radikal bebas berbahaya karena sifat kimianya labil, sehingga ia cenderung mengambil sebagian electron atau proton dari sel dinding pembuluh darah agar dirinya menjadi lebih stabil. Akibatnya sel tersebut akan rusak. Proses kerusakan itu terjadi secara berulang penambalan yang terjadi akan “membukit”. Akibat penyumbatan yang terjadi di pembuluh darah jantung yang bernama koroner, maka penyakitnya disebut jantung koroner. Jadi, angin duduk sebenarnya adalah bagian dari gejala penyakit jantung koroner.
Jika keyakinan kita mantap, semua variebel di alam semesta ini seakan mendukung keyakinan tersebut. Hal-hal rasional seakan tidak berlaku lagi, hukum alam seakan “berhenti”, sebab kita telah bermain dengan dimensi lain.
Ada tradisi unik yang dilakukan sebuah sekte agama Budha di Tibet. Sebelum seseorang diwisuda menjadi biksu atau limpo chi, ia harus diuji terlebih dahulu. Ujiannya terbilang aneh, yaitu mereka dikirim ke puncak Pegunungan Himalaya. Dalam waktu 24 jam mereka diminta untuk bermeditasi tanpa mengenakan busana, plus tanpa makan dan minum. Padahal, suhu rata-rata di pegunungan Himalaya mencapai minus 10 derajat celcius atau lebih. Pada suhu serendah itu, tumbuh-tumbuhan pun sulit bertahan hidup, apalagi manusia. Andai pun bisa bertahan, seperti yang dilakukan para pendaki professional, mereka harus mengenakan baju yang hangat berlapis-lapis plus tabung oksigen.
Mengapa ujiannya seberat itu? Ketika ditelusuri, hal tersebut merupakan ujian keyakinan para calon biksu. Jika selama ini keyakinan mereka hanya ada pada tataran filosofis, tibalah waktunya mereka pun harus diuji pada tataran praktis. Mereka diperintahkan untuk meyakini sesuatu hal yang dapat menyelamatkan mereka dalam kondisi ekstrem. Hal yang diperintahkan guru pembimbing ternyata sangat sederhana, dia hanya meminta agar para calon biksu ini membayangkan bahwa dit tulang ekornya terdapat api yang menyala sehingga para biksu pun bisa merasakan kehangatan.
Apa yang terjadi? Sekitar 50% dari mereka gagal, namun sebagian yang lain berhasil. Yang mengejutkan, di sekitar mereka duduk bersila terdapat semacam lubang berdiameter sekitar satu meter. Salju yang mereka duduki meleleh seperti terkena panas. Aneh bin ajaib, bukannya calon biksu yang membeku, tapi malah saljunya yang meleleh. Api yang menyala di tulang ekor seolah bukan imajinasi, tapi telah menjadi kenyataan.
Apakah ini sihir? Pasti bukan. Kuncinya terletak pada keyakinan atau keimanan. Semakin kuat keyakinan, semakin luar biasa pula efek yang ditimbulkan. Banyak terjadi kejadian “supranatural” di sekitar kita. Beberapa waktu yang lalu, di ITB dilakukan sebuah percobaan yang sedikit aneh. Sebuah bola lampu yang rapuh dijatuhkan ke keramik dari ketinggian tertentu. Apa yang terjadi? Yang hancur ternyata bukan bola lampu, tapi keramiknya. Ada pula percobaan lain, seseorang bisa mematahkan besi denga kertas koran. Padahal yang melakukan bukanlah orang yang memiliki kemampuan bela diri atau sihir. Inti dari semua itu, ada pada apa yang kita yakini dan imani, karena itulah yang akan menjadi kenyataan. Itu pulalah yang disebut dengan kekuatan pikiran.
Melihat fenomena-fenomena tersebut, timbul pertanyaan yang mendasar, yaitu dari manakah datangnya kemampuan semacam itu. Semua yang ada di alam semesta ini-termasuk manusia-memiliki kesamaan, sebab semuanya berasal dari sumber yang sama. Jika matahari bisa menghasilkan panas melalui reaksi fusi, secara prinsip, manusia pun bisa menghaslkan panas. Hal tersebut dikarenakan, bahan baku panas sudaha ada dalam tubuh manusia. Ingin menjadi “matahari” misalnya, itu pun bisa, karena unsure hydrogen dalam tubuh manusia sangat melimpah. Percayalah yang terjadi di matahari itu lebih sederhana, karena matahari hanyaa melibatkan dua proton yang dipersatukan menjadi neutron. Kemudian neutron bertemu satu proton, lalu dipersatukan lagi hingga terlepaslah electron manjadi cahaya.
Artinya, keyakinan atau persepsi yang kuat, bisa membawa kita memasuki sebuah dimensi dimana karakteristik asli dimensi ini tidak berlaku. Bagaiman prosesnya? Hanya Allah Yang Mahatahu. Namun setidaknya, penjelasan berikut bisa memperjelas.
Sesungguhnya, alam semesta ini diatur dan dihubungkan oleh sebuah “mekanisme tunggal”. Salah satu bentuk pengaturannya dapat kita lihat dalam empat gaya dasar yang mengatur keseimbanga dan harmoni alam semesta, yaitu gaya grafitasi, gaya elektromagnet, gaya nuklir lemah, dan gaya nuklir kuat. Mekanisme tunggal ini dapat kita umpamakan sebagai sebuah “computer induk” yang mengatur setiap kejadian di alam semesta, mulai dari yang terkecil hingga yang terbesat, dan yang paling rumit hingga yang paling sederhana.
Alam semesta merupakan sebuah system yang padu dan saling terhubung, sehingga sebuah kejadian kecil di suatu tempat, akan dapat mempengaruhi wilayah alam semesta lainnya, serta bisa diketahui dari posisi mana saja. Inilah yang dinamakan “mekanisme universal” atau “alam bawah sadar”. Stephen Hawking menamainya The Grand Formula atau Rumus Segala Kejadian, sedangkan Al-Qur’an menyebutnya dengan Lauful Mahfuzh atau Kitabin Mubin (Kitab yang Nyata. Misalnya dalam QS Al-An-‘aam [6]:59.
Nah, “komputer induk” (server) ini bisa kita akses oleh otak, karena otak manusia terhubung dengan komputer induk. Otak manusia yang milyaran jumlahnya dapat kita analogikan sebagai komputer kien. Kita dapat mengaksesnya melalui mekanisme alam bawah sadar tadi. Carl Gustav Jung menyebutkan sebagai “ketidaksadaran kolektif”, atau “mekanisme otomatis” (servo mechanism) menurut Maxwell Maltz. Inilah mekanisme di luar kesadaran yang berlaku universal. Mekanisme ini tidak hanya mempengaruhi diri seseorang saja, melainkan dapat mempengaruhi orang lain di sekitarnya. Bahkan, melibatkan berbagai mekanisme alamiah di sekitarnya.
Ketika seseorang meyakini, alam bawah sadarnya akan merekam keyakinan tersebut, walau terlihat “tidak rasional”. Semakin kuat keyakinan, semakin kuat pula rekamannya. Selanjutnya, terjadilah mekanisme otomatis di alam bawah sadar yang mengoordinasikan semua variabel di alam semesta untuk menuju pada keyakinan tersebut. Jika kita mempunyai keyakinan mantap, semua variabel di alam semesta seakan digerakkan untuk mendukung keyakinan tersebut. Hal-hal rasional seakan tidak berlaku lagi, hukum alam seakan “berhenti”, sebab kita telah bermain dengan dimensi lain.
Tidak hanya dimensi nonfisik, dimensi fisik kita pun akan bereaksi. Otal akan memerintahkan semua variabel yang ada dalam tubuh, khususnya para sel, untuk memfokuskan kerjanya demi mendukung keyakinan tersebut. Sel-sel akan melipatgandakan produksi energinya, sehingga tubuh mengeluarkan energi lebih besar dari biasaya. Itulah sebabnya, para calon biksu tadi bisa tahan di udara yang teramat dingin. Api imajinasi yang ada dalam otaknya, seakan mewujud api realitas. Semua komponen semesta, termasuk yang ada dalam tubuhnya, bekerja sama mewujudkan keyakinannya yang mendalam. Tidak berlebihan jika dikatakan, “Kekuatan Iman adalah kekuatan tertinggi”. Wallahu ‘alam.
“ Akan dating hari, mulut dikunci, kata tak ada lagi. Akan tiba masa, tak ada suara dari mulut kita. Berkata tangan kita tentang apa yang dilakukannya. Berkata kaki kit, ke mana saja dia melangkah”.
(kutipan lagu Tangan Kaki Bicara, dipopuerkan oleh Chrisye)
Selama ini kita berbicara tentang kecerdasan, asosiasi kita tertuju ke otak. Padahal, Allah SWT menyimpan kecerdasan tidak hanya di otak, tapi juga di seluruh bagian tubuh.
Ingin bukti?
Ada data beberapa mahasiswa mengetikkan SMS pendek sekitar 100 karakter tanpa melihat papan kunci (keypad) di telepon genggam. Ternyata tingkat kesalahannya sangat kecil. Bahkan 25% mahasiswa percobaan tersebut mampu mengetik dengan sangat tepat sampai titik komanya. Ketika mahasiswa yang bersangkutan diminta memproyeksikan pengetahuan abstraknya terhadap keypad di papan tulis, tingkat kesalahan mencapai 90%. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa “memori” keypad mungkin tersimpan di sel-sel ibu jari. Bisa juga, indra peraba di kulit ibu jari dapat memproyeksikan gambaran keypad ke otak. Atau, mungkin pula kedua hipotesis tersebut berlaku secara parallel.
Hal yang tak kalah menariknya, adalah percobaan berendam di air dingin. Beberapa sukarelawan diminta untuk berendam air dingin hamper sebatas bahu, lalu perlahan ditetesi segelas air hangat di daerah pundak. Apa yang terjadi? Bersamaan dengan dimulainya proses penetesan air hangat, para sukarelawan merasakan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuh, termasuk bagian-bagian yang terendam air dingin. Hal ini menunjukkan bahwa sel-sel tubuh (somatik) memiliki kemampuan memilah, memilih, dan menganalisis kondisi yang sesuai untuk dirinya. Terdapat pula kerjasama antara sistem memori dan pengambilan keputusan di tingkat pusat (otak dan jejaring sarafnya) denga kebijakan-kebijakan lokal di tingkat sel yang tersebar merata di seluruh tubuh.
Pilihan sel tubuh untuk menyikapi kondisi yang dihadapi merupakan hasil kompromi antara otoritas lokal dengan kebijakan di tingkat pusat. Dengan demikian, kemampuan sensoris sebagai perasa bukan lagi monopoli sistem saraf semata, tetapi juga dibangun oleh segenap komponen tubuh manusia, dan kita menyebutnya kecerdasan sinestesia, yaitu kemampuan untuk mengoptimalkan semua pusat asosiasi si otak dalam mengolah stimulus atau rangsangan.
Tampaknya kita harus tambah yakin bahwa tidak ada satu pun perbuatan yang luput dari “catatan” Allah. Di akhirat kelak, yang yang menjadi bukan siapa-siapa, tapi diri kita sendiri. Tangan, kaki, lidah, dan seluruh anggota tubuh kita akan berbicara. Sesungguhnya, mereka sangat cerdas dan mampu menyimpan memori.
Benar apa yang diungkapkan Chrisye dalam sebuah lagunya,”Akan datang hari, mulut dikunci, kata tak ada lagi. Akan tiba masa, tak ada suara dari mulut kita. Berkata tangan kita, tentang apa yang dilakukannya. Berkata kaki kita, ke mana saja dia melangkah”. Bait lagu tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Quran,…telah tercatat pada hari (ketika), lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan (QS An-Nur [24]:24).
Maka, berhati-hatilah dalam mendengar, melihat berucap, dan bertindak. Sebab, semua yang kita lakukan harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya (QS Al-Isra’ [17]: 36).